Minggu, 07 Oktober 2012

DHIDHIS dan PETAN Tradisi Wanita Jawa di Masa Lalu

 DHIDHIS  dan PETAN
Tradisi Wanita Jawa di Masa Lalu


 
sumber Foto :http://khozanah.files.wordpress.com/2010/08/petan2.jpg?w=620

“Dhidhis” dalam bahasa jawa berarti mencari kutu di kepala sendiri. Nah, apabila yang mencari kutu adalah orang lain di kepala seseorang yang lain, maka disebut “ PETAN”.
Ketika saya masih kecil, di desa saya masih ada Budaya Petan dan Dhidhis. Saat itu para wanita , seperti tradisi  wanita Jawa umumnya memanjangkan rambutnya.  Kutu rambut seperti  wabah menular dari rambut ke rambut. Barangkali karena saat itu belum ada shampo yang bagus, atau dikarenakan pola perawatan rambut yang masih terbelakang. Bahkan ada tradisi mencuci rambut dengan “lempung”, sejenis tanah liat yang lembut, bisa ditemukan di sungai.
Pada jam- jam istirahat setelah selesai memasak dan membereskan pekerjaan rumah, atau sepulang sekolah bagi anak- anak yang sekolah, biasanya para wanita istirahat duduk- duduk dibawah pohon yang rindang, mengobrol, mengawasi anak- anak yang sedang bermain sambil “ petan”.  Satu wanita  “ dipetani” wanita lainnya, wanita yang sedang “ metani” inipun dipetani wanita lainnya lagi... demikian sambung menyambung . Bisa terjadi empat atau wanita atau lebih yang  “petan”  sambung menyambung  .
Sambil petan mereka bisa ngobrol apa saja, menu hari itu, resep memasak, tips mengasuh anak, bahkan mungkin..maaf.. tips melayani suami...
Kadang suara teriakan dan gelak tawa, atau bahkan bisik- bisik bisa mengiringi budaya “ petan “ ini.
Nah, kalau DHIDHIS , ini adalah kegiatan mencari kutu dilakukan sendiri di kepala sendiri.
Tentu kegiatan dilakuakan apabila “pelaku” dalam keadaan sendiri . Sama halnya dengan petan, dhidhis bisanya dilakukan apabila seseorang sedang menganggur. Pekerjaan Rumah sudah selesai, sambil mengawasi anaknya bermain, kadang seseorang bisa dhidhis. Bagi anak- anak, remaja atau anak sekolah mungkin bisa kita dapati sedang dhidhis sambil membaca buku atau nonton televisi, atau kegiatan lain yang bisa “ disambi”... Dhidhis memang asyik banget...
Sekarang.... sepertinya budaya DHIDHIS dan PETAN sudah terkikis..
bagaimana di tempat Anda ?.. masih adakah ?

 
sumber foto :https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3KGiyW_XCqwd0Hk1B44jUBJEBEwPBppz5g_lQCr0yyoZjfrcAXdfp3zZ1pnrVcPovFT1bm8DGSLbXRIJT-IUNfuZXfAH7bD2Hx-i1GSEtx3FmDmY9ThcNw7cZacVqJJWs-ikpD7FXgJM/s1600/petan.jpg

sumber foto : http://multiply.com/mu/guekapokjatuhcinta/image/27/photos/16/600x600/8/petan.JPEG?et=OUxaTHR7xNvqVyUHwgiU%2BQ&nmid=107521272


MANUK-MANUK padha DHIDHIS dan PETAN



 “Dhidhis” dalam bahasa jawa berarti mencari kutu di kepala sendiri. Nah, apabila yang mencari kutu adalah orang lain di kepala seseorang yang lain, maka disebut “ PETAN”. Di teras atas rumah saya setiap hari banyak burung yang "ngaso". Diam - diam saya intip dari ruang studio saya, pelan-pelan, takut mengganggu, karena begitu tahu ada saya datang pasti mereka kabur...apa sih yg " mereka" , burung - burung ini lakukan... ternyata mereka pada DHIDHIS, ada juga yang PETAN...dibatasi oleh kaca jendela studio, saya coba abadikan kegiatan dhidhis dan petan mereka....sssttt... jepretnya pelan- pelan... takut ketahuan...foto sedikit terhalang kaca.. ..