Rabu, 06 Juni 2012

SUSUNAN SILABUS DAN RPP YANG BENAR MENURUT PERMENDIKNAS NO. 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


SUSUNAN SILABUS DAN RPP YANG BENAR
MENURUT PERMENDIKNAS NO. 41 TAHUN 2007
TENTANG STANDAR PROSES
UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

"Bagaimanakah susunan Silabus dan RPP yang benar ?"

Demikianlah, pertanyaan ini sering sekali muncul .
Format Silabus dan RPP di suatu sekolah berbeda dengan format di sekolah lain, bahkan bisa saja terjadi format yang dibuat oleh satu guru berbeda dengan format yang dibuat oleh  guru lain, meskipun mereka berada dalam naungan satu sekolah.
Para Pengawas Sekolah di jajaran Dinas Pendidikan pun terkadang memiliki interpretasi yang berbeda.

Lalu susunan yang bagaimanakah yang benar ?

Untuk menjawab pertenyaan tersebut, ada baiknya dilihat sumber yang lebih kuat, yaitu pada Permendiknas no.41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah

Bisa dipelajari pada LAMPIRAN
Bab II. Perencanaan Proses Pembelajaran.
          
Dijelaskan bahwa  Perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus dan RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ), yang memuat identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi ( SK ), Kompetensi Dasar ( KD ), Indikator pencapaian kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Ajar, Alokasi waktu, Metode Pembelajaran, kegiatan Pembelajaran, Penilaian Hasil Belajar, dan Sumber Belajar.

Penjelasan secara khusus mengenai Silabus dan RPP terdapat pada poin A dan B.

A. SILABUS

Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

B. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.



 Komponen RPP adalah :
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. Metode pembelajara
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI.
9. Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.


10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

C. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
5. Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

KESIMPULAN

Sampai pada bagian  akhir Peraturan ini tidak disinggung dan tidak pernah ditentukan mengenai format yang baku, namun tegas dituliskan mengenai muatannya

Bisa disimpulkan bahwa, Peremendiknas 41 tahun 2007 ini tidak mengatur mengenai format, tetapi lebih  menuntut pada muatannya.

Oleh karena itu tidak perlu dibuat polemik yang berkepanjangan mengenai format yang benar, karena format bisa dikatakan benar apabila muatan di dalamnya sesuai dengan apa yang diminta dalam permendiknas ini.

Meskipun format bukanlah sebuah tuntutan, namun tentunya harus dibuat format yang sistimatis dan runtut., seperti halnya apabila kita akan mengenakan sepatu, maka kaus kaki kita pasang dahulu, barulah sepatunya dikenakan.

Sumber    : Permendiknas no. 41  tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Pendidikan
                     Dasar Dan Menengah


 Untuk lebih jelasnya, silahkan buka tautan berikut :


 











 

Senin, 04 Juni 2012

CONTOH PENENTUAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) BIDANG STUDI SENI RUPA

Sebelum belajar bagaimana cara menentukan KKM Bidang Studi Seni Rupa, ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu mengenai pengertian KKM dan hal- hal yang berhubungan dengan penentuan KKM
Semoga bermanfaat.

sailahkan klik tautan berikut :
http://www.scribd.com/doc/95861905/Contoh-Penentuan-Kriteria-Ketuntasan-Minimal

Di bawah ini adalah contoh cara menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ) bidang Studi Seni Budaya
cabang Seni Rupa.
SK-KD dan indikator yang dijadikan sampel adalah materi materi esensial yang diambil dalam jenjang kelas X, XI, XII, yang kebetulan di SMA K St. Louis 1 Surabaya diberikan dalam satu tahun di kelas XII,
Silahkan mengadopsi sesuai dengan real kondisi di sekolah penyelenggara.

silahkan klik tautan berikut :
http://www.scribd.com/doc/95865279/Penentuan-KKM-Seni-Rupa

Salam Budaya,
DRA.PAULINA SOESRI HANDAJANI
GURU SENI RUPA SMA K ST. LOUIS 1 SURABAYA

Rabu, 23 Mei 2012

MELANGGENGKAN BUDAYA DAERAH DISELA KESIBUKAN AKADEMIS

PERFORM SISWA dalam  PARADE BUDAYA 2012
MELANGGENGKAN BUDAYA DAERAH
DISELA KESIBUKAN AKADEMIS

Mengalami sendiri bagaimana menampilkan sebuah karya adalah pengalaman yang sangat berharga.
Inilah yang sengaja saya anjurkan untuk siswa siswi.
Mengajak mereka berkarya dan menampilkannya di depan umum.
Apapun hasilnya biarlah menjadi apresiasi tersendiri bagi masyarakat.

Beberapa event mereka ikuti,meskipun pesaingnya adalah kelompok profesional yang sudah pasti akan menampilkan yang mungkin akan lebih indah.
Tetapi pengalaman anak- anak ini mungkin jauh lebih indah.
Kali ini mereka mengikuti Parade Budaya 2012 yang terdiri dari parade bunga dan perform budaya.




Para siswa dari ekstra kurikuler merangkai bunga bertugas menghias sebuah truk.
Sedangkan para siswa yang lain bertugas membuat desain pertunjukan budaya daerah. Pillihan konsep jatuh pada "Jathilan" mereka menamai kelompok ini dengan nama TURANGGA YAKSA SINLUI PUTRO.
Anak- anak muda ini mengikuti perarakan dengan penuh semangat. Dukungan penonton menambah semangat mereka. Perform anak-anak muda ini bisa diterima oleh masyarakat.
Sebuah kebanggaan, anak- anak muda ini tidak melupakan tradisi daerah, meskipun disibukkan oleh kegiatan akademis di sekolah.
Siapa menyangka anak- anak muda ini mau bersusah payah berjalan kaki menyusuri kota Surabaya , menampilkan budaya daerah dan melayani masyarakat di sepanjang jalan.




Inilah sinopsis yang mereka buat :


SINOPSIS
PARADE BUDAYA
SMA K ST. LOUIS 1 SURABAYA

Indonesia mempunyai beraneka ragam budaya dan seni. Salah satunya adalah kesenian Jathilan yang dipersembahkan oleh SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya (Turangga Yaksa Sinlui Putro). Kesenian ini merupakan “Pethilan” dari Reog Ponorogo yang dikombinasikan dengan tradisi Jawa tengahan.
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Dimana kesenian ini menggambarkan Pasukan Ksatria berkuda yang sedang menjalankan sebuah misi perjuangan.
Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. (Ketika pasukan ini dalam perjalananannya untuk menunaikan tugas ditengah  perjalanan mengalami gangguan dari sekelompok Buto sehingga menghambat perjalanan pasukan tersebut........) Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Selamat Ulang Tahun Surabaya...

                               menabuh gamelan di atas truk


                                              Tim Jaranan 

Teruskan tekadmu anak- anakku, budaya daerah adalah kekayaan tak terbeli.
Kita rawat dengan penuh kesyukuran.
Kita jaga dengan penuh kebanggaan
Salam Budaya

Rabu, 27 April 2011

Buket dalam Gelas Untuk Dekorasi Rumah

Pernahkah Anda melihat tradisi merendam bunga pada hari-hari tertentu dalam budaya lampau ?
Barangkali sekarang juga masih ada.
Terinspirasi oleh budaya tersebut, dilandasi oleh semangat "keindahan", maka saya tampilkan di sini contoh-contoh kreasi membuat buket dalam gelas.

Alat/bahan :
  • gunting, 
  • vas kaca berbentuk tabung atau sejenisnya.
Bunga       : 
Pada dasarnya semua jenis bunga bisa digunakan, namun trend saat ini lebih minimalis, maka   jenis bunga tidak usah terlalu banyak.
Namun semua tergantung dari konsep yang ingin Anda wujudkan Contoh di sini saya gunakan daun pandan, gerbera dan Anggrek putih.

Langkah-langkah ;
  • Isi vas dengan air, 1/4 bagian dari tinggi vas. usahakan tidak menggunakan aspac, namun apabila terpaksa menggunakan aspac, maka buatlah tersembunyai supaya lebih estetis.
  • Masukkan terlebih dahulu bunga yang posisinya paling bawah, buat menghadap berbagai sisi supaya bisa dinikmati dari berbagai arah. (misalnya  Gerbera diopotong pendek, lalu lebih dahulu ditaruh , karena akan dijadikan hiasan di bagian bawah,  )
  • Letakkan  Bunga lainnya di bagian atas, misalnya dalam contoh ini menggunakan anggrek.
  • Apabila mengininkan ada daun, maka daun diletakkan terakhir kali.

Kreasi Mbak Soes dengan gelas yang pendek
Mbak Soes - dengan gelas panjang, mulai bawah Samrok, gerbera, anggrek


Kreasi Mbak Soes, gerbera, anggrek

semua kreasi Mbak Soes disatukan

Pamer kreasi, dikagumi suami..hwallah..

Selasa, 26 April 2011

Curriculum Component Consistency dalam Bidang studi Seni Rupa SMA K St. Louis 1 Surabaya

Untuk memaparkan keterkaitanLearning Outcomes-Teaching Learning Strategy dan Assessment, terlebih dahulu saya akan coba memaparkan pengertian Learning Outcomes.

Learning Outcomes adalah adalah pernyataan tentang harapan bahwa seorang siswa akan mampu melakukan suatu pekerjaan /perbuatan sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran.

Oleh karena itu Learning Outcomes harus disampaikan dalam sebuah stated/ rumusan sehingga membantu pendidik lebih efektif untuk menyampaikan kepada siswa apa yang diharapkan dari mereka setelah mengalami proses pembelajaran.

Selain hal tersebut di atas , beberapa keuntungan dengan dirumuskannya outcomes adalah :
a. Membantu siswa belajar lebih efektif. Siswa menyadari dimana posisi mereka dalam learning activity .
b. Membuat lebih jelas apa yang bisa diharapkan siswa dari mengikuti learning activity.
c. Membantu pendidik merancang rumusan materi . Rumusan Materi ini bisa disebut sebagai template yang efektif untuk mereka.
d. Membantu pendidik memilih strategi pengajaran yang sesuai: misalnya (1) exposition-discovery learning atau (2) group-individual learning, misalnya dengan ceramah, seminar, belajar manndiri, tanya jawab atau kelas laboratorium. Dengan cara ini akan lebih mudah menyelaraskan outcomes, activity learning dan Teaching Learning Strategy.
e. Membantu pendidik mengevaluasi proses pembelajaran apakah sudah mampu mencapai outcomes atau belum..
f. Memastikan bahwa assessment strategies telah sesuai dan bekerja secara efektif.

Uraian di atas semoga bisa menjelaskan keterkaitan antara Learning Outcomes-Teaching Learning Strategy dan Assessment

Di bawah ini adalah contoh penerapan yang dilakukan terkait konsep dari Curriculum Component Consistency pada pembelajaran Bidang Studi Seni Rupa. Dari masing-masing komponen saya ambil satu contoh yang saling berkaitan .

Kompetensi Dasar :12.1. Menggambar Teknik / Proyeksi
a. Learning Outcomes

Dengan Lembar kerja yang sudah dipersiapkan, siswa mampu menggambar Proyeksi sebuah benda ruang secara akurat sesuaui dengan prinsip dasar Menggambar Proyeksi .

b. Teaching Learning Strategy , Model dan Metode Pembelajaran

1. Strategy Pembelajaran: group learning – Induktif Startegy Learning
2. Model Pembelajaran : kooperatif ( Coperative Learning )
3. Metode Pembelajaran : Eksperimen, pemberian tugas

c. Assessment :
Teknik penilaian : tes kinerja
Bentuk penilaian : Lembar Penilaian Tes Kinerja



LEMBAR PENILAIAN
Proyeksikan bangun di bawah ini dengan ketentuan sebagai berikut :













 

 
 Kunci Jawaban

Format Penilaian
Keterangan Skala Penilaian
1.      Akurasi proyeksi ( Bidang 1, 2, 3 ) 
a. Peletakan desain setiap sisi dan ukuran yang ditampilkan dalam Gambar proyeksi 
    tidak akurat ( 1 )
b. Peletakan desain setiap sisi dan ukuran yang ditampilkan dalam Gambar proyeksi 
   kurang   akurat ( 2 )
c.  Peletakan desain setiap sisi dan ukuran yang ditampilkan dalam Gambar proyeksi
    cukup  akurat ( 3 )
d. Peletakan desain setiap sisi dan ukuran yang ditampilkan dalam Gambar proyeksi s
    sangat akurat ( 4 )
2.      Garis Pararel
a. Garis Pararel ditampilkan tidak tepat (1)
b. Garis Pararel ditampilkan kurang tepat (2)
c.  Garis Pararel ditampilkan cukup tepat (3)
d. Garis Pararel ditampilkan sangat tepat (4)
3.      Pewarnaan
a. Pewarnaan tidak mendukung penampilan Desain ( 1 )
b. Pewarnaan kurang mendukung penampilan Desain ( 2 )
c.  Pewarnaan cukup mendukung penampilan Desain ( 3 )
d. Pewarnaan sangat mendukung penampilan Desain ( 4 )
4.      Kerapian
a. Penampilan karya tidak rapi ( 1 )
b. Penampilan karya kurang rapi ( 2 )
c.  Penampilan Karya cukup rapi ( 3 )
d. Penampilan karya sangat rapi ( 4 )

KLASIFIKASI PROSES BELAJAR MENGAJAR

Secara umum proses belajar mengajar diklasifikasikan menjadi 3 :
1. TEACHER DIRECTED ACTIVITIES
2. PEER DIRECTED ACTIVITIES
3. SELF DIRECTED ACTIVITY / controlled

TEACHER DIRECTED ACTIVITIES adalah kegiatan pengajaran oleh seorang guru atau oleh team teaching. Team teaching adalah suatu sistem mengajar yang dilakukan dua orang guru atau lebih dalam satu kelas atau lebih dari satu kelas. Kedua orang guru atau lebih itu bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil belajar siswa.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih proses pembelajaran TDA adalah :
- Pembelajaran diarahkan untuk mendapatkan materi yang lebih mendalam
- Proses pembelajaran tersebut menempatkan guru sebagai ahli
- Inti pembelajaran yang diharapkan adalah lebih fokus pada materi
- Proses pembelajaran meliputi menyampaikan pengetahuan, menjelaskan, mengklarifikasi
- Proses pembelajaran yang kita lakukan memerlukan umpan balik
- Memperdalam pemahaman melalui interaksi guru-siswa
- Beberapa metode "klasik" bisa dilakukan : ceramah, diskusi, tanya jawab...

PEER DIRECTED ACTIVITIES dilakukan apabila proses pembelajaran sangat membutuhkan hubungan langsung guru- siswa melalui tatap muka, meskipun dalam perkembangan saat ini , bisa saja hubungan langsung ini diganti dengan hubungan tidak langsung melalui beberapa media.
PEER DIRECTED ACTIVITIES dilakukan apabila konsep learning activity adalah :
1. Menguraikan dan memperluas materi
2. Mengaktifkan penilaian tentang sebuah standar yang harus dibuat
3. Meningkatkan pemahaman terhadap suatu materi
4. Memberikan perspektif / cara pandang yang berbeda tentang sebuah konsep
5. Mendorong wawasan yang lebih luas bagi siswa
6. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan menemukan sesuatu.
7. Peningkatan konsep diri.

Beberapa bentuk kegiatan yang bisa dilakukan :
1. Syndicate kelompok
2. Pemecahan masalah kelompok
3. Belajar mitra
4. Kotak pos kelompok
5. Proyek tim

SELF DIRECTED adalah kegiatan belajar diarahkan pada yang belajar mandiri yang membutuhkan motivasi, relevansi dan kemampuan belajar.
SELF DIRECTED baik dilakukan untuk:
1. Mendorong otonomi learning activity bagi siswa.
2. Meningkatkan pembelajaran mandiri
3. Mencari informasi baru, memanfaatkan informasi dan mengevaluasi pentingnya
sebuah innnformasi
4. Memecahkan masalah
5. Mengembangkan refleksi
7. Fokus perbaikan diri

Beberapa hal yang harus diperthatikan apabila menerapkan SELF CONTROLLED adalah :
1. Membutuhkan manajemen waktu, kontrol dan praktek dalam pembelajaran.
2. Membutuhkan kemampuan belajar strategi ke dalam pengajaran.
3. Membutuhkan dukungan berbagai strategi lain yang berguna/relevan.
4. Mendorong siswa untuk menemukan nilai-nilai dalam pembelajaran.

Demikian sharing saya,
mohon koreksinya.
Salam

Belajar membatik


Semasa kuliah dulu saya pernah belajar membatik.
Ketika MGMP Seni Budaya Propinsi Jawa Timur mengadakan workshop membatik, serasa reuni.
Senang rasanya, apalagi berbagi dengan teman-teman se Jatim.