Minggu, 30 September 2012

Proses Belajar Langsung di Alam Mengikuti perjalanan belajar siswa SMA K St. Louis Surabaya di Yogyakarta








Proses Belajar Langsung di Alam
Mengikuti perjalanan belajar siswa SMA K St. Louis Surabaya
di Yogyakarta



Sin Lui, begitu  nama kerennya. Nama sebenarnya adalah SMA K St. Louis. Sekolah Katolik yang dikenal dengan coraknya yang meneladani Vincentius,hamba Tuhan yang sangat memperhatikan kaum miskin.
Sekolah ini  memiiki visi yang menekankan pendidikan yang menumbuhkan pribadi vinsensian yang utuh, yaitu yang beriman mendalam, unggul dalam budi pekerti dan keilmuan, kreatif serta peduli pada sesama, terutama yang miskin dan lemah.
Untuk mewujudkan visi sekolah itulah selalu diupayakan proses pembelajaran yang seimbang  dalam akademis maupun non akademisnya.
Bahkan proses Belajar di kelas diusahakan untuk mewujudkan cita- cita tersebut, tentunya melalui proses belajar yang lebih mengena.

Belajar langsung dari Alam

Salah satu upaya untuk mewujudkan visi tersebut adalah proses pembelajaran yang langsung dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Siswa diajak untuk mengamati secara langsung, bahkan mengalami sendiri satu sisi kehidupan masyarakat dan seluruh aspek sosialnya.
Kali ini  pilihan jatuh pada kota Yogyakarta , kota Pendidikan yang sarat dengan kecantikan budayanya lengkap dengan kehidupan pedesaan yang masih alami.
Kemudian dirancanglah sebuah perjalanan dengan harapan selama beberapa hari akan menjadi peristiwa yang sangat berkesan bagi para siswa dan menorehkan kenangan yang berguna bagi kehidupannya kelak.
Dan jadilah konsep perjalanan dimana siswa akan belajar tentang seni, budaya, ekonomi,geografi dan banyak hal melalui obyek wisata Yogyakarta, sekaligus mendalami sosiologi masyarakat pedesaan dengan menginap di sebuah desa dalam beberapa hari.


Perjalanan pembelajaran

Sebuah perjalanan pembelajaran dimulai.
Beraneka gambaran muncul membayangkan suasana pedesaan.
Dan para siswa pun saling lontarkan pernyataan akan berbagai kemungkinan yang terjadi. Nampaknya mereka benar-benar menikmat perjalanan.
Selepas perjalanan dari Surakarta, sudah terasa hawa budaya yang khas. Bentuk bangunan dan kegiatan masyarakat yang terlihat. Nampak pengendara sepeda berlalu lalang di sisi tepi jalan. Laki-laki, perempuan, tua muda, bahkan nampak seorang Nenek dengan masih mengenakan jaritnya bisa mengendarai sepeda.Tentunya pemandangan ini tidak akan didapatkannya di Surabaya.
Perjalanan terus saja berlanjut. 

Kali ini Candi Prambanan menantang setiap peserta untuk menyelami.
Begitu sampai di pelataran candi, para siswa langsung berhamburan mencari informasi.Sebagaian siswa langsung menjumpai petugas Candi untuk mendapatkan berbagai informasi, sebagian yang lain bekeliling mengambil gambar dan mempelajari bentuknya.
Mereka belajar langsung pada tempatnya, ada kepuasan yang terpancar.Kadang wajah yang serius menyimak tetapi terkadang tawa berderai menghiasi suasana itu.
Ini baru obyek pertama.
Masih banyak pembelajaran lain yang menanti.
Para Guru yang menemani “hanya” melihat dengan jarak, karena siswa-siswi begitu bebas belajar, dan mereka sudah mendapatkannya.


Obyek pembelajaran langsung

Perjalanan lebih seru dialami ketika mereka sampai di desa.
Suasana akrab langsung menyambutnya. Hujan rintik tidak mengurangi rasa kekeluargaan itu.
Bahkan lebih berasa.
Peserta langsung dibagi dalam kelompok, dan bersama para pemuda  yang siap memandu mereka diantar ke homestay-nya masing-masing.
Disinilah babak baru benar-benar dimulai.
Bagaimanapun keadaan homestay-nya, mereka harus terima.
Bahkan dari pendapat beberapa siswa rasanya lebih terasa belajarnya apabila mendapatkan rumah yang lebih sederhana.
Ada beberapa siswa yang kebetulan mendapatkan rumah sederhana, semula mengeluhkan kondisi rumah  dengan kamar yang tidak berpintu, kamar mandi di luar rumah , banyak nyamuk dan berbagai kesulitan yang lain. Di akhir perjalanan justru dia yang banyak menceritakan kesan indahnya.
Para siswa dihadapkan pada berbagai aspek sosial yang ada. Bahkan budaya dan kehidupan religiusnya.
Malam itu mereka menyaksikan kesenian Tradisional “Jathilan”
Adalah diluar dugaan kalau ternyata mereka begitu antusias menikmati. Meskipun sedikit takut-takut melihat beberapa pemain “kesurupan” namun keinginan untuk lebih mengetahui kesenian itu begitu besarnya.
Bahkan pada  malam esok harinya yang semestinya tidak ada lagi pertunjukan “Jathilan” atas permintaan siswa diadakan lagi pertunjukan itu.

 Bersama Pak Tani di Pagi hari

Hari masih sangat pagi.
Embun pun masih bergelayut diantara daun-daun.
Nampak Burung blekok dan kuntul yang menjadi ciri khas desa ini, berlompatan dari dahan ke dahan.
Para siswa peserta live-in sedang dalam perjalanan ke sawah.
Agendanya di hari kedua ini adalah mengikuti upacara menanam padi.
Sambil menikmati perjalanan yang hijau. Siswa-siswi mengabadikan burung-burung itu yang sebentar lagi akan terbang mencari makan di sawah-sawah.
Burung ini memakan ikan dan anak-anak katak di sawah.Tidak ada seorang penduduk pun yang merasa terganggu, bahkan mereka adalah sahabat-sahabatnya. Itulah yang membuat bagaimana burung-burung itu begitu kerasan dan tidak meninggalkan desa ini.
Dan burung-burung inilah yang akhirnya menjadi salah satu potensi desa.



Sampai di sawah, lumpur sudah menanti.
“Bu, didalam ada cacingnya ya ?” seorang siswa menunjuk sawah dengan wajah ragu.
“O,ya. Ada cacing,ada katak, ada lintah…hi….”.sang Guru menggoda.
Tetapi rupanya sang anak sudah lupa dengan cacing ketika melihat seorang temannya menghela sapi menjalankan luku dan garu. Suatu alat untuk menggemburkan dan membalik  tanah yang ditarik dua ekor sapi.
Asyik juga.
Akhirnya dua pematang sawah itu dipenuhi anak-anak yang mencoba menjalankan “luku” dan “garu”.
Tidak ada lagi yang jijik bahkan takut kotor. Mereka sudah melupakannya.
Yang ada hanyalah keinginan untuk menjadi “petani-petani” baru.
Saat menanam padi tiba. Siswa berjajar untuk mencoba menanam.
Wajah-wajah ceria menghiasi sawah.
Semua berlomba untuk mencoba.
Acara ini diakhiri dengan selamatan untuk memohon kepada Tuhan hasil panen yang berlimpah.dan  ditutup dengan makan bersama di pinggir sawah.
Ada kelelahan, namun rona belajar mengalahkannya.
Bahkan ketika mereka bertanya, “Berapa yang Ibu dapatkan dari ini semua?”
Ketika seorang Ibu menjawab perkiraan nominal, nampak mereka terhenyak.
“Jangan khawatir Bu, nanti berasnya saya borong…” semua tertawa.
Jawaban siswa ini begitu polosnya. Namun nampak bahwa dia sedang belajar sesuatu. Ada sebuah nilai yang mereka dapatkan.
Semoga tidak hilang begitu saja.


Ada  yang menarik ketika dalam perjalanan pulang dari sawah.
Seorang siswa menyaksikan penduduk desa sedang memandikan sapi, lalu dia bergabung. Diambilnya ember dan gayung. Diusap-usapnya tubuh sapi.
Hari ini ada seorang anak yang belajar memandikan sapi, padahal dia sendiri belum mandi….ah…jayus….  (istilahnya arek Sin Lui untuk yang tidak lucu)                                  

Pulang dari sawah semua siswa mampir di beberapa rumah penduduk untuk menyaksikan membuat emping.
Kebetulan di desa ini banyak pohon belinjo, yang buahnya merupakan bahan untuk membuat emping.
Puas membuat emping mereka pulang ke rumah penginapannya masing-masing, mandi dan bersiap-siap untuk kemudian belajar di kota Gedhe .
Banyak yang mereka pelajari.Beberapa tujuan pembelajaran lain antara lain:Kasongan, Keteb. Gereja Ganjuran dan  Pantai Baron.

 Hasil  pembelajaran

Sebagian dari kisah perjalanan ini cukup untuk bisa menggambarkan bagaimana model belajar di alam ala Sin Louis.
Di Setiap tempat mereka belajar dan membuat laporan.
Namun pada akhirnya laporan hanyalah sebagan kecil dari banyak hal yang mereka dapatkan.
Meskipun mereka mempunyai tanggungjawab besar untuk mempresentasikan laporannya dalam sebuah seminar, namun secara global bisa dikatakan bahwa itu bukanlah centre point dari keseluruhan kegiatan ini.
Ada banyak hal yang tidak tertuang dalam laporan, namun memiliki tempat tersendiri di ruang hati mereka masing-masing.

Proses pembelajaran bergulir begitu saja.
Nilai yang berupa angka pada laporan pada akhirnya menjadi kegiatan kognitif semata.
Mereka belajar tentang bagaimana saudaranya yang petani hidup.
Tentang arti sosialitas. Bagaimana para penduduk merasa aman dan nyaman di desa sehingga tidak lagi membutuhkan pagar berpintu di setiap rumahnya.
Rasa percaya penduduk pada setiap tamu. Mereka tinggal serumah dengan tamu tanpa curiga sedikitpun. Fasilitas rumah digunakan bersama. Kamar merekapun sebagian tidak berpintu.
Amboi…adakah suasana ini di perkotaan?
Nyatalah bahwa saling percaya,menjaga dan penuh keujujuran benar-benar menjadi  modal hidup yang besar.


Dalam bidang Seni, para siswa diajak untuk melihat langsung bagaimana proses penciptaan sebuah karya.
Rasa kagum dan apresiasi muncul tanpa diminta.
Ada pesona yang terpancar ketika tangan-tangan terampil sedang mengolah tanah liat untuk dijadikan guci dan berbagai benda gerabah lainnya di Kasongan.
Kekaguman itu tidak sirna begitu saja, karena sampai di Kota Gedhe, kembali mereka dihadapkan pada sebuah karya yang tak kalah indahnya. Kerajinan Perak. Dimana semua proses dilakukan dengan tangan secara manual .

Ketika keesokan harinya peserta diajak ke Keteb,Magelang untuk  belajar tentang gunung.para siswa pun dengan sukarela mau menggali informasi dan menyaksikan visualisasinya
Rasanya tidak rugi mengajak anak-anak ke sini. Karena banyak hal yang mereka dapatkan sekaligus disinkronkan dengan materi yang sudah diterima di kelas.

Demikianlah, satu per satu obyek dikunjungi.
Saat sore , malam, hingga pagi hari para peserta belajar di desa.
Suara jangkrik, kodok dan binatang malam menghiasi suasana.
Dan saat acara berakhir, kenangan menjadi begitu indahnya.
Nampak beberapa siswa berpamitan dengan induk semangnya masing-masing. Saling memberikan kenang-kenangan.
Yang ini di luar agenda acara.Menunjukkan betapa mereka belajar.
Menghargai dan mencintai sesama adalah salah satu tujuan kegiatan ini.
Rasanya itu sudah tercapai
Tak akan berhenti. Kegiatan ini akan terus berlanjut.
Karena SMA K St. Louis I Surabaya tidak akan berhenti membentuk jiwa-jiwa  yang Vincensian.
Viva Sin Lui..

Paulina Soesri Handajani

Tidak ada komentar: